Al-Qur'an mengandung banyak nilai dan prinsip moral sebagai pedoman
dan jalan keselamatan bagi seluruh umat Islam.[1]
Ajaran dan nilai-nilai Al-Qur'an akan menjadi sarana mengatasi gelombang
perubahan di dunia. Di era milenial, semua perubahan dan kemampuan beradaptasi
diperlukan orangtua untuk mendidik anak-anaknya. Mulai saat ini, nilai-nilai
Al-Qur'an harus menjadi pedoman universal dan abadi bagi kehidupan manusia,
terutama bagi orangtua dalam mendidik anaknya. Kesadaran orangtua terhadap
pentingnya ajaran Islam sebagai landasan dan pegangan hidup, ditandai dengan mulai
perhatian dalam parenting pada anak.
Anak merupakan anugerah sekaligus amanah yang diberikan Allah SWT.
kepada orangtuanya. Oleh karena itu, memberikan parenting yang tepat adalah
bentuk tanggungjawab yang sudah seharusnya diberikan orangtua kepada anak.[2]
Berbicara mengenai parenting, didalam Al-Qur’an sudah terdapat metode yang
penuh hikmah (Qur’anic Parenting) yang diterapkan oleh seorang ayah bernama
Luqman dalam membentuk karakter anaknya (dalam QS. Luqman). Pendidikan merupakan hal yang penting untuk
peradaban apalagi di era milenial. Pendidikan dalam Islam tidak terbatas pada latihan fisik,
tetapi juga mencakup aspek lain seperti emosi dan kecerdasan. Untuk menciptakan
generasi dengan akhlakul karimah, tentu saja diperlukan ilmu untuk mengasuh
anak yang benar sesuai dengan syari’at Islam karena mengingat bahwasannya anak
merupakan amanah yang kelak akan dipertanggungjawabkan dihadapanNya.
Pola mengasuh dan mendidik anak
dikehidupan sehari-hari dikenal dengan sebutan parenting. Untuk
menciptakan generasi yang berakhlakul karimah tenrtu saja perlu pola asuh yang
sesuai dengan ajaran Islam, Al-Quran dan sunnah (istilah gaulnya Islamic
Parenting).[3] Didalam
Islam, istilah parenting dikenal sebagai tarbiyah al-Awlad yang perlu
dilandasi prinsip-prinsip keimanan, ketauhidan dan akhlakul karimah. Sebagai
orangtua muslim sudah sepatutnya kita back to Qur’an dalam mendidik
anak-anak karena itulah sumber ilmu pendidikan yang utama. Pola mengasuh anak
dalam perspektif Qur’an ini disebut Qur’anic parenting, yaitu pola
mengasuh dan mendidik anak sesuai dengan nilai-nilai pelajaran dalam Al-Qur’an.[4]
Didalam Al-Qur’an nilai-nilai
pelajaran yang dapat dijadikan panutan parenting adalah
1. Kisah yang menjelaskan dengan tegas
bagaimana orangtua yang mendidik anaknya dengan semestinya:
وَٱلْوَٰلِدَٰتُ
يُرْضِعْنَ أَوْلَٰدَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ ۖ لِمَنْ أَرَادَ أَن يُتِمَّ ٱلرَّضَاعَةَ
ۚ وَعَلَى ٱلْمَوْلُودِ لَهُۥ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِٱلْمَعْرُوفِ ۚ لَا
تُكَلَّفُ نَفْسٌ إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَا تُضَآرَّ وَٰلِدَةٌۢ بِوَلَدِهَا وَلَا
مَوْلُودٌ لَّهُۥ بِوَلَدِهِۦ ۚ وَعَلَى ٱلْوَارِثِ مِثْلُ ذَٰلِكَ ۗ فَإِنْ
أَرَادَا فِصَالًا عَن تَرَاضٍ مِّنْهُمَا وَتَشَاوُرٍ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا
ۗ وَإِنْ أَرَدتُّمْ أَن تَسْتَرْضِعُوٓا۟ أَوْلَٰدَكُمْ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ
إِذَا سَلَّمْتُم مَّآ ءَاتَيْتُم بِٱلْمَعْرُوفِ ۗ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ
وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ ۞
Artinya: Para ibu
hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin
menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada
para ibu dengan cara ma'ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar
kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan
seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila
keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan,
maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh
orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran
menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah
Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Baqarah: 233)
وَلْيَخْشَ ٱلَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا۟ مِنْ
خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَٰفًا خَافُوا۟ عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا۟ ٱللَّهَ
وَلْيَقُولُوا۟ قَوْلًا سَدِيدًا۞
Artinya: Dan hendaklah takut
kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka
anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka.
Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka
mengucapkan perkataan yang benar. (QS. An-Nisa: 9)
2. Kisah yang menjelaskan tentang
bagaimana nabi dan orang-orang sholeh medidik anak-anaknya
QS. Luqman: 13-19
وَوَصَّيْنَا ٱلْإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيْهِ
حَمَلَتْهُ أُمُّهُۥ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَٰلُهُۥ فِى عَامَيْنِ أَنِ
ٱشْكُرْ لِى وَلِوَٰلِدَيْكَ إِلَىَّ ٱلْمَصِيرُ۞،،،،،،،،،،،،،،،،،،،،،،،،،،،أَلَمْ
تَرَوْا۟ أَنَّ ٱللَّهَ سَخَّرَ لَكُم مَّا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ
وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُۥ ظَٰهِرَةً وَبَاطِنَةً ۗ وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن
يُجَٰدِلُ فِى ٱللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَلَا هُدًى وَلَا كِتَٰبٍ مُّنِيرٍ۞
Nilai-nilai dasar pendidikan yang
terkandung dalam QS. Luqman: 13-19[5]
diantaranya adalah: Mengandung pendidikan dasar ketauhidan dan larangan menyekutukan
Allah SWT. Adab terhadap kedua orangtua terutama kepada Ibu yang telah memberi
kasihnya sepanjang masa, akhlak yang baik terhadap orang lain, pendidikan
ibadah seperti mendirikan sholat dengan sempurna, Amar ma’ruf nahi munkar dan
pendidikan lainnya yang berorientasi menjadikan seseorang berakhlakul karimah.
Islam
memiliki metode khusus dalam mendidik anak. Cara pertama dalam mendidik anak
dapat dimulai sedari dalam kandungan sampai ia lahir. Sejak dalam kandungan
anak sudah mulai dapat dididik dengan mendengarkan murottal Al-Quran, si ibu
memperbanyak mengaji Al-Quran. Hal tersebut berpengaruh sekali karena dapat
menstimulasi kecerdasan anak nantinya. Apabila menginginkan anak seorang
hafidz, maka kita perlu mengenalkan Al-Quran sejak dalam kandungan, kemudian
saat ia lahir maka bisa dengan memperdengarkan Al-Quran juz 1 selama 1 bulan
kemudian saat usia 2 bulan memperdengarkan Murottal juz 2, begitupun seterusnya
sampai juz 30 (kurang lebih sampai usia 2 setengah tahun). Dengan begitu anak
akan terbiasa mendengar ayat-ayat Al-Quran dan saat sudah mulai bisa berbicara,
dapat mempermudah orangtua dalam mengajarkan isi Al-Quran. Selanjutnya adalah
dengan mengenalkan dasar-dasar Islam, seperti belajar mengucap syahadat,
basmallah, tahmid, dan lain-lain. Jangan lupa untuk senantiasa berdoa kepada
Allah SWT. agar kelak anak kita dapat menjadi anak yang bermanfaat dan menjadi
generasi Qur’ani.
Konsep Parenting dalam Al-Qur’an telah jelas mulai dari anak masih
didalam kandungan sampai anak tumbuh dewasa. Pembentukan karakter anak perlu
dimulai sejak dini. Orangtua perlu upaya dalalm membekali anak dengan parenting
yang mencakup ilmu agama Islam sesuai Al-Qur’an dan Sunnah. Metode mendidik
anak menurut Al-Qur’an diantaranya adalah; pembiasaan, keteladanan, nasehat,
pengawasan, hukuman dan hijrah.[6] Akan
tetapi terkadang ada juga orangtua yang melakukan segala hal agar anak-anaknya
menjadi anak-anak yang solih-solihah, namun sang anak sendiri kurang respect
atau susah diarahkan sehingga seingkali tidak sesuai harapan dan mengecewakan.
Pada persoalan seperti itu telah dijelaskan dalam kitab Fiqh Tarbiyah al-Abnaa karya
Musthafa bin al-‘Adawy bahwasanya dalam keadaan seperti itu orangtua dianjurkan
agar senantiasa memperbaiki diri serta mendekatkan diri kepada Allah SWT. dan
memperbanyak amal salih. Karena amal salih dapat memberikan keberkahan
tersendiri pada anak.(Q.S. Al-Kahfi; 82)[7]
Amal salih yang dicontohkan orangtua secara langsung akan membentuk
karekteristik anak karena anak merupakan peniru yang handal. Ketika orangtua
rajin sholat tepat waktu, berdzikir, puasa, maka anak akan terdoktrin untuk
melakukan hal yang sama oleh orangtuanya karna otaknya merekam kegiatan orang
tuanya.
Terdapat beberapa strategi agar anak mengghafal Qur’an sejak dini
menurut usia-usianya[8]:
Bayi berusia 0-2 tahun
- -
Membacakan
atau memutarkan tilawah Al-Quran 4x dalam sehari (pagi, siang, sore, malam)
- -
Setiap
5 hari 1 surah, minimal dibaca 3x dalam sekali waktu
- -
Urutan
surah yang dibaca mulai dari surah-surah pendek, yaitu Al-Fatihah, dilanjut
An-Nas, A-Falaq dan seterusnya.
- -
Dalam
sehari sekali lain-lain surah dibaca sekali
Meskipun bayi belum bisa berbicara,
bacaan ayat-ayat Al-Quran yang didengarkan akan tertanam dalam ingatannya,
sehingga suatu saat nanti bacaan tersebut akan keluar dengan sendirinya,
insyaAllah.
Anak usia 2-4 tahum
- -
Metodenya
sama dengan metode untuk bayi
- -
Jika
kemampuan dalam mengucapkan kurang, maka waka waktunya ditambah, semisal sehari
5 kali
- -
Sering-sering
dengarkan tilawah Al-Quran
- - Hindarkan anak dari tv dan gadget karena dapat membuat anak malas menghafal
Anak seusia ini biasanya akan mengungkapkan hal-hal yang kita tanamkan pada dirinya, jadi orangtua juga perlu memberikan contoh sembari menuntunnya,
Anak usia diatas 4 tahun
- -
Mulai
atur konsentrasi dan waktu anak untuk menghafal lebih serius
- -
Ajari
anak untuk menghafal dan muraja’ah sendiri
- -
Selalu
motivasi anak agar semangatnya selalu terjaga
- -
Latih
menghafal 3-4x perhari
Saat anak sudah mulai tumbuh remaja, tetap pantau dan latih agar
istiqomah menghafal dan muraja’ah, karena ketika anak menginjak dewasa nanti
sudah terbiasa memanage waktu untuk hafalannya sendiri. Jangan lupa untuk
selalu mendoakan anak setiap selepas sholat.
Doa agar anak paham Al—Qur’an
Selain ilmu parenting islami, berdoa juga sama pentingnya agar
Allah mengkaruniakan Al-Qur'an kepada anak.
Doa untuk anak laki-laki:
اَللَّهُمَّ
فَقِّهُّ فِي الدِّينِ وَعَلِّمْهُ التَّأْوِيلَ
Allaahumma
faqqihhu fid diini wa 'allimhut ta'wiil.
Doa
untuk anak perempuan:
[1] Quraish
Shihab, Membumikan Al-Qur’an Jilid 2, 2011.
[2] Rubini Rubini and Cahya Edi Setyawan,
“Quranic Parenting: The Concept of Parenting in Islamic Perspective,” Al-Misbah
(Jurnal Islamic Studies) 9, no. 1 (April 3, 2021): 38,
https://doi.org/10.26555/al-misbah.v9i1.1948.
[3] Nurul Padilah, “URGENSI PARENTING
PERSPEKTIF HADIS,” n.d., 7.
[4] Farhan Masrury, “KONSEP PARENTING DALAM
PERSPEKTIF AL-QUR’AN (Analisis Surah Luqman Ayat 13-19)” 2 (2021): 207.
[5] Muhammad Tang S and Akhmad Riadi, “Implikasi
Paedagogis Alquran Surat Luqman Ayat 13-19 Tentang Materi Dasar Pendidikan
Agama Islam,” JURNAL PENELITIAN 14, no. 2 (December 28, 2020): 353,
https://doi.org/10.21043/jp.v14i2.8139.
[6] Rubini and Setyawan, “Quranic Parenting,”
39.
[7] Neneng Maghfiroh et al., Parenting Dalam
Islam (Tangerang Selatan: Yayasan Pengkajian Hadis el-Bukhari Institute,
n.d.), 12.
[8] Hasan Syamsi, MODERN ISLAMIC PARENTING
(Kartasura, Solo: AISAR Publishing, 2014), 310.
Komentar
Posting Komentar